Waktu kunjungan Beliau memang sudah lewat lama...tapi ingin memposting suatu wacana...
sungguh merupakan aliran embun sejuk namun menambah api semangat bagi daya juang Indonesia...
kutipan disini menyebutkan...
http://www.freelists.org/archives/nasional_list/05-2006/msg00605.html
bahwa Iran dengan pengayaan nuklirnya merupakan negara yang sangat ditakuti Uncle sam...
dan sungguh santun surat Ahmadenijad yang penuh api keberanian..
http://tehranifaisal.blogspot.com/2006/05/surat-ahmadinejad-untuk-bush.html
sungguh merupakan kewibaan dan suatu toleransi tinggi serta penuh haru biru membangkitkan semangat hidup DUNIA....entah apakah sebagai damai tentunya, atau jika mau menyerbu lewat media apa pun..gue ikut....surat penuh toleransi serta penuh haru dan damai bagi saya pribadi...
kutipan pertama, menyebutkan setelah kunjungan Ahmadenijad ke Indonesia, ... bush bernegosiasi dengan libia, ....
walaupun disebutkan Sam tidak memikirkan kunjungan ini, tetapi mungkin benar pada kutipan itu ...kunjungan tersebut di intelejenkan oleh Sam...
hmmm....menurut saya pribadi...
Indonesia masih memilki taring dalam kondisi permainan politik percaturan dunia...
semoga benar adanya....saya yakin benar adanya...
Ayo Pak SBY dan mungkin juga presiden selanjutnya, tunjukkan taring Indonesia pada dunia...
baru teringat..Indonesia adalah satu-satunya negara yang menentang embargo terhadap Iran pada suatu rapat akbar dunia..(maaf lupa konferensi apa itu)...dari belasan negara , hanya Indonesia yang menentang...(itu yang dikagumi Ahmadenijad...)...
namun jangan dilupa...
perbaiki segala carut marut negeri....
untuk menjadi pemenang di politik dunia...
hanya perlu kejujuran hati dan keberanian untuk menunjukkan hati suci yang jujur itu...
tapi tetap...
GOROK PARA KORUPTOR....
PENGHIANAT....
ITU SAJA..
SALAM MERDEKAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!........
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 Maret 2008
Kamis, 27 Maret 2008
Tidak ada yang terlalu biasa...hanya makanan ketimpangan ekonomi sehari-hari yang menjadi terbiasa...KORUPSI..
salam revolusi...
hahh..setiap hari hanya berita korup..
malah menjadi suatu yang biasa....
terkadang menjadi buah pikiran..bginikah suatu budaya tetap mengakar...??
menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi hal yang biasa, dan ikut terbiasa...
kemudian membiasakan diri dengan hal yang biasa itu,,,..
semoga tidak ikut jatuh membiasakan diri...
banyak para tikus bilang munafik dalam dunia ini...
pasti lah..itu sudah terpikirkan sebelum mereka mengucapkan..
hmmm...sebelum menjadi terbiasa....
tetaplah hajaaar....api tak akan pernah padam bagi mereka...gorok leher mereka..
terutama para JAKSA-JAKSA...
dahulu pernah ada cerita...
memang sudah biasa dalam setiap perkara ada jaksa-jaksa pencari cara yang biasa ini (baca:korup dalam suap)...
dan dalam berita koran, mereka cuma kambing kambing hitam kurban dari...
segala tikus pemilik kambing hitam tersebut...
atokah mereka sebenarnya yang jujur yang sebenarnya menyelamatkan para koruptor...?
liat KPK dulu...tidak ada yang bisa dipercaya lagi...
dapat dilihat di Riau (koran tanggal posting ini...)...disuap sebesar 450 juta dari dana korupsi yang merugikan negara 9,3 miliar...
hmmm...kalo boleh saya disana...
walaah...gua gorok sekalian dah..mutilasi....udah negara dikorbankan 9,3 miliar sekarang malah bayar suapan...
jaksa mah mau2 aja...yang waras mungkin...coz perlu orang ga waras yang perlu menyelamatkan negara ini dari KOrup...
munafik benarlah....
demi negara bolehlah....
hidup munafikkkk......
gorok para koruptor.....
gorok...
gorok....
gorok....
salam..REVOLUSIIII.......
pengkhianat hanya pantas mati....
salam..
hahh..setiap hari hanya berita korup..
malah menjadi suatu yang biasa....
terkadang menjadi buah pikiran..bginikah suatu budaya tetap mengakar...??
menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi hal yang biasa, dan ikut terbiasa...
kemudian membiasakan diri dengan hal yang biasa itu,,,..
semoga tidak ikut jatuh membiasakan diri...
banyak para tikus bilang munafik dalam dunia ini...
pasti lah..itu sudah terpikirkan sebelum mereka mengucapkan..
hmmm...sebelum menjadi terbiasa....
tetaplah hajaaar....api tak akan pernah padam bagi mereka...gorok leher mereka..
terutama para JAKSA-JAKSA...
dahulu pernah ada cerita...
memang sudah biasa dalam setiap perkara ada jaksa-jaksa pencari cara yang biasa ini (baca:korup dalam suap)...
dan dalam berita koran, mereka cuma kambing kambing hitam kurban dari...
segala tikus pemilik kambing hitam tersebut...
atokah mereka sebenarnya yang jujur yang sebenarnya menyelamatkan para koruptor...?
liat KPK dulu...tidak ada yang bisa dipercaya lagi...
dapat dilihat di Riau (koran tanggal posting ini...)...disuap sebesar 450 juta dari dana korupsi yang merugikan negara 9,3 miliar...
hmmm...kalo boleh saya disana...
walaah...gua gorok sekalian dah..mutilasi....udah negara dikorbankan 9,3 miliar sekarang malah bayar suapan...
jaksa mah mau2 aja...yang waras mungkin...coz perlu orang ga waras yang perlu menyelamatkan negara ini dari KOrup...
munafik benarlah....
demi negara bolehlah....
hidup munafikkkk......
gorok para koruptor.....
gorok...
gorok....
gorok....
salam..REVOLUSIIII.......
pengkhianat hanya pantas mati....
salam..
Minggu, 03 Februari 2008
Keberhasilan Indonesia di masa depan dalam bioenergy..
Posting dibuat karena dalam dua hari yang lalu...
Australis memberikan suntikan dana untuk mengurangi kecelakaan udara sebesar 240 miliar rupiah untuk peningkatan kualitas pilot...
korupsikan maka hilang kepercayaan Australia..hehe...aku tau kok pejabat udah bosen korupsi kan...kalo belum hadapan ma gua salah satunya...brani...gua mati...
hadapan ama kitab suci yang loe baca setiap hari....
korelasi akan bioenergy..dapat dilihat pada ucapan Indonesia...
"ini lebih baik dari pada travel warning, atau hard policy yang diberlakukan eropa"...
korelasi lain..Indonesia menghadapi syarat2 najis eropa yang menghambat impor bioenergy dari kelapa sawit (kompas red)..
Indonesia sudah menjadi negara impor bioenergy disamping dari bunga matahari, serta bioenergy dari lobak.....PAHAMI dan INTELIJENKAN iNI TEMAN2 PERJUANGAN....
Eropa takut dalam menghadapi Indonesia untuk menjadi Importir bioenergy...
dan pengurangan harga pertamax sebesar 350 rupiah merupakan bukti bahwa bioenergy secara langsung mengurangi beban dalam negeri...
Yakinku akan perkembangan Bioenergy Indonesia...salam MERDEKAAA!!!!....
war is the answer....
brave it...
peace??
just shut ur mouth...
Australis memberikan suntikan dana untuk mengurangi kecelakaan udara sebesar 240 miliar rupiah untuk peningkatan kualitas pilot...
korupsikan maka hilang kepercayaan Australia..hehe...aku tau kok pejabat udah bosen korupsi kan...kalo belum hadapan ma gua salah satunya...brani...gua mati...
hadapan ama kitab suci yang loe baca setiap hari....
korelasi akan bioenergy..dapat dilihat pada ucapan Indonesia...
"ini lebih baik dari pada travel warning, atau hard policy yang diberlakukan eropa"...
korelasi lain..Indonesia menghadapi syarat2 najis eropa yang menghambat impor bioenergy dari kelapa sawit (kompas red)..
Indonesia sudah menjadi negara impor bioenergy disamping dari bunga matahari, serta bioenergy dari lobak.....PAHAMI dan INTELIJENKAN iNI TEMAN2 PERJUANGAN....
Eropa takut dalam menghadapi Indonesia untuk menjadi Importir bioenergy...
dan pengurangan harga pertamax sebesar 350 rupiah merupakan bukti bahwa bioenergy secara langsung mengurangi beban dalam negeri...
Yakinku akan perkembangan Bioenergy Indonesia...salam MERDEKAAA!!!!....
war is the answer....
brave it...
peace??
just shut ur mouth...
Label:
australia,
bioenergy,
eropa,
kelapa sawit,
korupsi
Konferensi Korupsi Internasional..
Di nusa dua pada saat posting ini ditulis..
sandiwara pengembalian harta korupsi negara Indonesia sedang dilaksanakan...
baik oleh Indonesia, Tanzania, Ghana, dan negara-negara sarang koruptor lain...
mudah-mudahan menjadi sandiwara yang berakhir baik bagi Indonesia...
satu hal..yang dicatat..walau berani dalam meminta agar birokrasi pemintaan dana dipotong...
namun Hartaradjasa sebagai penghubung , masih takut akan diputus bantuan investasi oleh negara-negara modern kapitalis anjing...
jika suatu keberanian memiliki dasar uang...sama artinya nyawa adalah sama dengan uang...
haaaahh...jika suatu perut adalah didasarkan uang...
maka aku lebih baik menaruh harga diriku dan menjadi pengemis dan pengamen di jalan..untuk mencari sesuap nasi di antara hamparan mercy new eyes tanpa goresan yang mungkin perlu digores dengan gitarku.....
kenapa takut wahai masterku wahai Tuanku Hartarajadsa.....
biarlah Indonesia berdikari dulu...saatnya menyumbang bukan meminta sumbangan kepada negara-negara modern Anjing itu...
Rampas hasil korupsi penghianat bangsa...sebenarnya dalam pemutaran uang bank swiss...Indonesia menyumbang berapa dari kredit2 bank swiss itu...?
otakkmu perlu dibalikkan....
tidak ada pamrih, tidak ada balas budi, tidak ada takut...
HAJAAAAAARRR...MERDEKAAA!!!..
saatnya Indonesia jaya..
sandiwara pengembalian harta korupsi negara Indonesia sedang dilaksanakan...
baik oleh Indonesia, Tanzania, Ghana, dan negara-negara sarang koruptor lain...
mudah-mudahan menjadi sandiwara yang berakhir baik bagi Indonesia...
satu hal..yang dicatat..walau berani dalam meminta agar birokrasi pemintaan dana dipotong...
namun Hartaradjasa sebagai penghubung , masih takut akan diputus bantuan investasi oleh negara-negara modern kapitalis anjing...
jika suatu keberanian memiliki dasar uang...sama artinya nyawa adalah sama dengan uang...
haaaahh...jika suatu perut adalah didasarkan uang...
maka aku lebih baik menaruh harga diriku dan menjadi pengemis dan pengamen di jalan..untuk mencari sesuap nasi di antara hamparan mercy new eyes tanpa goresan yang mungkin perlu digores dengan gitarku.....
kenapa takut wahai masterku wahai Tuanku Hartarajadsa.....
biarlah Indonesia berdikari dulu...saatnya menyumbang bukan meminta sumbangan kepada negara-negara modern Anjing itu...
Rampas hasil korupsi penghianat bangsa...sebenarnya dalam pemutaran uang bank swiss...Indonesia menyumbang berapa dari kredit2 bank swiss itu...?
otakkmu perlu dibalikkan....
tidak ada pamrih, tidak ada balas budi, tidak ada takut...
HAJAAAAAARRR...MERDEKAAA!!!..
saatnya Indonesia jaya..
Senin, 14 Januari 2008
Mengapa Tempe Tahu pun di timbun..(Review terhadap ekonomi pancasila)..
Kadang-kadang beginilah Indonesia...dimana orang-makan orang,,,..
coba cek kembali arti demoksasi Pancasila..sebagai dasar dari ekonomi pancasila...
DMANAKAH RASA EMPATI BANGSA!!!!!????!
WHAT HAPPEN TO MY BEAUTY Indonesia...
terkadang memetik suatu sikap SOsialis adalah sangat perlu...
memetik perjalanan hidup seorang presiden Ahmadenijad...
Irak adalah negara Islam, tapi kenapa mereka bisa lebih berempati...
memetik perjalanan hidup Evo Morales, Hugo Chaves, dan tentu saja Fidel Castro..sungguh memiliki makna .."Inilah Presiden Radikal....Eko Prasetyo"
seperti pada minyak tanah kmarin..mungkin itu lebih disebabkan pada peningkatan permintaan..
tapi mengapa selalu ada penimbunan???
uang...hmmmm...saya pikir saya mencari dasar pertanyaan tentang ekonomi itu sendiri...
hehehe..
tetapi tidaklah seperti itu...menyisipkan ekonomi dan menggabungkannya dengan prinsip kesejahteraan, atau kebahagiaan ala TAO..tidaklah salah..toh Dunia terus berputar..
sebagai bahan pembelajaran....permintaan meningkat maka harga yang ditawarkan meningkat...
lalu kalo belum terjadi peningkatan pada harga,, kenapa penawaran harus menunggu harga naik???lalu kemudian ditawark
thats the point of view...
prinsip keadilan akan ekonomi, bagaimana....apakah Invisible Hand masih bisa melaksanakan Invisible hand nya ... Karena Pemerintah pun harus turun tangan terus menerus....
banyak prinsip yang liberalisme belum pantas dilaksanakan di Indonesia...
ada berpendapat Indonesia masih negara berkembang, wajarlah ....
tapi mengkambing hitamkan situasi yang lain pun boleh kan...
CONTOH:
1.Sinetron yang terlalu memperlihatkan Jurang Pemisah (PEMBODOHAN)....benar2 pembodohan publik karena membentuk cara berpikir yang salah..
yang Kaya akan semakin sombong dengan kekayaannya...yang miskin akan semakin bermimpi dalam kesehariaannya dan energi pun habis karena digunakan untuk bermimpi saja..produktivitas ataupun kreativitas tidak ada..(boleh direnungkan)...
2. Moral bangsa yang membudayakan korupsi adalah kambing hitam yang saking hitamnya menjadi Legam..karena selalu menjadi Kambing..
3.Pendidikan yang tidak bisa dikatakan murah...namun terdapat Kabupaten di Bali (JEMBRANA) .. yang menggratiskannya..Karena semakin masyarakat dihadapkan bahwa pendidikan itu penting...maka cara berpikir itu menjadi lebih mengarah pada pencarian pengetahuan yang lebih banyak...
4.Penetapan hukuman yang lemah, letoy , loyo...mungkin para hakim, jaksa perlu diberikan VIAGRA atau JAMU KUAT...HAHAHAHA...kalo pengacara mah ga usah....udah jreengg...
5. DPR..OH..DPR...dmnakah OOH..DPR...DJONTROK PETRUK RAMPOK...
kadang2 Petruk mau jadi raja..walaaah ya gini lah...
coba cek kembali arti demoksasi Pancasila..sebagai dasar dari ekonomi pancasila...
DMANAKAH RASA EMPATI BANGSA!!!!!????!
WHAT HAPPEN TO MY BEAUTY Indonesia...
terkadang memetik suatu sikap SOsialis adalah sangat perlu...
memetik perjalanan hidup seorang presiden Ahmadenijad...
Irak adalah negara Islam, tapi kenapa mereka bisa lebih berempati...
memetik perjalanan hidup Evo Morales, Hugo Chaves, dan tentu saja Fidel Castro..sungguh memiliki makna .."Inilah Presiden Radikal....Eko Prasetyo"
seperti pada minyak tanah kmarin..mungkin itu lebih disebabkan pada peningkatan permintaan..
tapi mengapa selalu ada penimbunan???
uang...hmmmm...saya pikir saya mencari dasar pertanyaan tentang ekonomi itu sendiri...
hehehe..
tetapi tidaklah seperti itu...menyisipkan ekonomi dan menggabungkannya dengan prinsip kesejahteraan, atau kebahagiaan ala TAO..tidaklah salah..toh Dunia terus berputar..
sebagai bahan pembelajaran....permintaan meningkat maka harga yang ditawarkan meningkat...
lalu kalo belum terjadi peningkatan pada harga,, kenapa penawaran harus menunggu harga naik???lalu kemudian ditawark
thats the point of view...
prinsip keadilan akan ekonomi, bagaimana....apakah Invisible Hand masih bisa melaksanakan Invisible hand nya ... Karena Pemerintah pun harus turun tangan terus menerus....
banyak prinsip yang liberalisme belum pantas dilaksanakan di Indonesia...
ada berpendapat Indonesia masih negara berkembang, wajarlah ....
tapi mengkambing hitamkan situasi yang lain pun boleh kan...
CONTOH:
1.Sinetron yang terlalu memperlihatkan Jurang Pemisah (PEMBODOHAN)....benar2 pembodohan publik karena membentuk cara berpikir yang salah..
yang Kaya akan semakin sombong dengan kekayaannya...yang miskin akan semakin bermimpi dalam kesehariaannya dan energi pun habis karena digunakan untuk bermimpi saja..produktivitas ataupun kreativitas tidak ada..(boleh direnungkan)...
2. Moral bangsa yang membudayakan korupsi adalah kambing hitam yang saking hitamnya menjadi Legam..karena selalu menjadi Kambing..
3.Pendidikan yang tidak bisa dikatakan murah...namun terdapat Kabupaten di Bali (JEMBRANA) .. yang menggratiskannya..Karena semakin masyarakat dihadapkan bahwa pendidikan itu penting...maka cara berpikir itu menjadi lebih mengarah pada pencarian pengetahuan yang lebih banyak...
4.Penetapan hukuman yang lemah, letoy , loyo...mungkin para hakim, jaksa perlu diberikan VIAGRA atau JAMU KUAT...HAHAHAHA...kalo pengacara mah ga usah....udah jreengg...
5. DPR..OH..DPR...dmnakah OOH..DPR...DJONTROK PETRUK RAMPOK...
kadang2 Petruk mau jadi raja..walaaah ya gini lah...
Label:
DPR,
korupsi,
pancasila,
Penimbunan,
Produktivitas
Selasa, 04 Desember 2007
Politik dengan biaya tinggi adalah awal buruk
Seperti diketahui, banyak pertanyaan mengapa anggota-anggota terhormat DPR, MPR, dsb yang sangat tidak dihormati melakukan korupsi..
Ya karena salah satunya adalah politik dengan biaya tinggi tersebut..
Jika dinilai sebuah kesalahan mereka korupsi..
jelaslah salah dan tidak perlu dipertanyakan...
yang lebih salah lagi, mengapa biaya untuk menjadi DPR,MPR, tersebut sangat tinggi...
ya pada saat mereka ingin naik biaya yang dikeluarkan banyak pula...
saya pribadi tertawa, dalam artian membenarkan ironi saudara paulus T...yaitu
"Sudah jelas soal moral berperan serta kok malah> dibilang bukan soal moral ?> System building salah karena moralnya juga sudah> tidak benar.> > Sekarang saat korupsi sedang disorot masyarakat,> yang disalahkan adalah> politik yang katanya berbiaya tinggi.> > Kalau mau ngeles terus ya muter-muter aja gak akan> habis lingkaran setannya.> > Sebagai gambaran saja muternya, biar nanti gak perlu> pusing mikir cara> ngelesnya lagi.> > Korupsi == disebabkan oleh == Politik biaya tinggi> Politik biaya tinggi ==di sebabkan oleh == ekonomi> biaya tinggi> ekonomi biaya tinggi == disebabkan oleh == besarnya> pajak, pungli dan biaya> siluman lainnya> pajak besar, pungli + biaya siluman == disebabkan> oleh== korupsi.> > Ya diputer-puter saja yah, biar rakyatnya mabok> semua.> > > Regards,> Paulus T."
pada http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg23241.html
kalo dipikir betul juga seperti itu...
tetapi ICMI menampilkan cara untuk mengurangi biaya politik tinggi tersebut..yaitu
"Dijelaskan Nanat, dampak lebih lanjut dari tingginya biaya politik di Indonesia mengakibatkan kebijakan para kepala daerah yang terpilih tersebut menjadi disetir oleh sponsor. Hal ini terlihat dari pelaksanaan berbagai proyek di lingkungan pemerintah daerah yang tidak kredibel. Menurut Nanat, jika hal ini terus dibiarkan, pelaksanaan demokrasi di Indonesia akan terus terpuruk. ''Malah, akan menimbulkan tsunami demokrasi,''tegas dia.
Salah satu solusi yang ditawarkan ICMI, kata Nanat, adalah pengurangan biaya politik dalam pemilihan kepala daerah. Menurut dia, pemerintah seharusnya mengeluarkan anggaran untuk membiayai proses politik setiap calon. Namun, supaya tidak terlalu membebani keuangan negara, biaya yang dikeluarkan tersebut harus terbatas.
Selain itu, kata Nanat, ICMI menawarkan supaya pengajuan calon kepala daerah, hingga presiden yang berasal dari perseorangan dipermudah. ''Jadi, calon perseorangan bisa tampil dalam proses pemilihan bersaing dengan calon kepala daerah yang berasal dari parpol dengan sejajar,''cetus Nanat. Hal serupa dikemukakan Ketua Dewan Penasihat ICMI, Prof Ginandjar Kartasasmita. Dijelaskan Ginandjar, salah satu solusi supaya tidak pelaksanaan demokrasi di Indonesia bisa maju adalah mengurangi dominasi partai dalam proses pemilihan kepala daerah.
Saat ini, kata dia, dominasi partai dalam proses demokrasi ini telah mengakibatkan tidak jelasnya kinerja demokrasi itu sendiri. ''Para calon harus mencari partai sebagai kendaraan. Layaknya kendaraan, ojeg misalnya, berarti harus bayar,''cetus Ginanjar yang juga ketua Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) RI ini."
pada http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=314178&kat_id=3
solusi yang ditawarkan adalah mengajukan anggaran sendiri..dan mengambil jalan calon perseorangan bukan dari partai...
saya tertarik dengan ulasan pada http://afewgoodwords.wordpress.com/2007/03/10/menyoal-parlemen-biaya-tinggi/
di ulasan tersebut dikatakan bahwa sudah melakukan politik biaya tinggi, lalu tidak kompeten lagi dalam menyelesaikan urusan bangsa..yang dipikirkan malah urusan perut,keluarga, dan golongan..
sarkasmenya orang guuooblogg dan tidak punya rasa ingin membangun bangsa Indonesia kok jadi DPR...
dari situ kita bisa berpikir bahwa Indonesia, masih menjadikan uang sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kemewahan, prestise, dan keunggulan semu...
jadi intinya adalah mencari seumber kebahagiaan lain...selain uang...
jika ditilik dari produk-produk yang menggiurkan (seperti HP terbaru, Mobil mewah, laptop yang sebenarnya katrok tapi ga tau kalo itu katrok)...
maka sebenarnya bangsa Indonesia masih dibingungkan oleh suatu standar yang semu...
ini adalah unsur negatif dari kemajuan teknologi...
bukan untuk melawannya, tetapi wajar dari setiap budaya ada positif dan negatifnya...
kecuali korupsi.titik.
solusi lain adalah dapat dilihat pada pengurangan birokrasi yang menjelimet...
hal itu sudah dilakukan oleh kabupaten jembrana yang sudah trbukti mampu memangkas birokrasinya...hal itu pun menjadi contoh bagi kabupaten lainnya...
jembrana disebutkan bahwa mampu menggratiskan sekolah, biaya rumah sakit, dan birokrasi itu sendiri...
tidak percaya, baca ulasan diyah peneliti solo untuk diperlihatkan kepada pemimpin solo...
pada http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/12/slo10.htm
ato tulis di yahoo search "keberhasilan jembrana"....
ada rasa haru mendengarnya...
tapi untuk pribadi saya yang masih belum jadi apa-apa...
paling tidak saya bersyukur sudah mengawali dari diri sendiri untuk membenci korupsi...
dan berbahagia dengan apa yang sudah dipunyai,diberikan oleh dunia...
amin...
harapan yang ada adalah orang Indonesia semuanya tanpa terkecuali paling tidak mengintrospeksi diri untuk tidak melakukan korupsi...
dengan itu jika semuanya bangsa indonesia membencinya... bukan tidak mungkin Indonesia berhasil lepas dari budaya yang bikin malu bangsa tersebut...
amin..
terima kasih Tuhan
Ya karena salah satunya adalah politik dengan biaya tinggi tersebut..
Jika dinilai sebuah kesalahan mereka korupsi..
jelaslah salah dan tidak perlu dipertanyakan...
yang lebih salah lagi, mengapa biaya untuk menjadi DPR,MPR, tersebut sangat tinggi...
ya pada saat mereka ingin naik biaya yang dikeluarkan banyak pula...
saya pribadi tertawa, dalam artian membenarkan ironi saudara paulus T...yaitu
"Sudah jelas soal moral berperan serta kok malah> dibilang bukan soal moral ?> System building salah karena moralnya juga sudah> tidak benar.> > Sekarang saat korupsi sedang disorot masyarakat,> yang disalahkan adalah> politik yang katanya berbiaya tinggi.> > Kalau mau ngeles terus ya muter-muter aja gak akan> habis lingkaran setannya.> > Sebagai gambaran saja muternya, biar nanti gak perlu> pusing mikir cara> ngelesnya lagi.> > Korupsi == disebabkan oleh == Politik biaya tinggi> Politik biaya tinggi ==di sebabkan oleh == ekonomi> biaya tinggi> ekonomi biaya tinggi == disebabkan oleh == besarnya> pajak, pungli dan biaya> siluman lainnya> pajak besar, pungli + biaya siluman == disebabkan> oleh== korupsi.> > Ya diputer-puter saja yah, biar rakyatnya mabok> semua.> > > Regards,> Paulus T."
pada http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg23241.html
kalo dipikir betul juga seperti itu...
tetapi ICMI menampilkan cara untuk mengurangi biaya politik tinggi tersebut..yaitu
"Dijelaskan Nanat, dampak lebih lanjut dari tingginya biaya politik di Indonesia mengakibatkan kebijakan para kepala daerah yang terpilih tersebut menjadi disetir oleh sponsor. Hal ini terlihat dari pelaksanaan berbagai proyek di lingkungan pemerintah daerah yang tidak kredibel. Menurut Nanat, jika hal ini terus dibiarkan, pelaksanaan demokrasi di Indonesia akan terus terpuruk. ''Malah, akan menimbulkan tsunami demokrasi,''tegas dia.
Salah satu solusi yang ditawarkan ICMI, kata Nanat, adalah pengurangan biaya politik dalam pemilihan kepala daerah. Menurut dia, pemerintah seharusnya mengeluarkan anggaran untuk membiayai proses politik setiap calon. Namun, supaya tidak terlalu membebani keuangan negara, biaya yang dikeluarkan tersebut harus terbatas.
Selain itu, kata Nanat, ICMI menawarkan supaya pengajuan calon kepala daerah, hingga presiden yang berasal dari perseorangan dipermudah. ''Jadi, calon perseorangan bisa tampil dalam proses pemilihan bersaing dengan calon kepala daerah yang berasal dari parpol dengan sejajar,''cetus Nanat. Hal serupa dikemukakan Ketua Dewan Penasihat ICMI, Prof Ginandjar Kartasasmita. Dijelaskan Ginandjar, salah satu solusi supaya tidak pelaksanaan demokrasi di Indonesia bisa maju adalah mengurangi dominasi partai dalam proses pemilihan kepala daerah.
Saat ini, kata dia, dominasi partai dalam proses demokrasi ini telah mengakibatkan tidak jelasnya kinerja demokrasi itu sendiri. ''Para calon harus mencari partai sebagai kendaraan. Layaknya kendaraan, ojeg misalnya, berarti harus bayar,''cetus Ginanjar yang juga ketua Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) RI ini."
pada http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=314178&kat_id=3
solusi yang ditawarkan adalah mengajukan anggaran sendiri..dan mengambil jalan calon perseorangan bukan dari partai...
saya tertarik dengan ulasan pada http://afewgoodwords.wordpress.com/2007/03/10/menyoal-parlemen-biaya-tinggi/
di ulasan tersebut dikatakan bahwa sudah melakukan politik biaya tinggi, lalu tidak kompeten lagi dalam menyelesaikan urusan bangsa..yang dipikirkan malah urusan perut,keluarga, dan golongan..
sarkasmenya orang guuooblogg dan tidak punya rasa ingin membangun bangsa Indonesia kok jadi DPR...
dari situ kita bisa berpikir bahwa Indonesia, masih menjadikan uang sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kemewahan, prestise, dan keunggulan semu...
jadi intinya adalah mencari seumber kebahagiaan lain...selain uang...
jika ditilik dari produk-produk yang menggiurkan (seperti HP terbaru, Mobil mewah, laptop yang sebenarnya katrok tapi ga tau kalo itu katrok)...
maka sebenarnya bangsa Indonesia masih dibingungkan oleh suatu standar yang semu...
ini adalah unsur negatif dari kemajuan teknologi...
bukan untuk melawannya, tetapi wajar dari setiap budaya ada positif dan negatifnya...
kecuali korupsi.titik.
solusi lain adalah dapat dilihat pada pengurangan birokrasi yang menjelimet...
hal itu sudah dilakukan oleh kabupaten jembrana yang sudah trbukti mampu memangkas birokrasinya...hal itu pun menjadi contoh bagi kabupaten lainnya...
jembrana disebutkan bahwa mampu menggratiskan sekolah, biaya rumah sakit, dan birokrasi itu sendiri...
tidak percaya, baca ulasan diyah peneliti solo untuk diperlihatkan kepada pemimpin solo...
pada http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/12/slo10.htm
ato tulis di yahoo search "keberhasilan jembrana"....
ada rasa haru mendengarnya...
tapi untuk pribadi saya yang masih belum jadi apa-apa...
paling tidak saya bersyukur sudah mengawali dari diri sendiri untuk membenci korupsi...
dan berbahagia dengan apa yang sudah dipunyai,diberikan oleh dunia...
amin...
harapan yang ada adalah orang Indonesia semuanya tanpa terkecuali paling tidak mengintrospeksi diri untuk tidak melakukan korupsi...
dengan itu jika semuanya bangsa indonesia membencinya... bukan tidak mungkin Indonesia berhasil lepas dari budaya yang bikin malu bangsa tersebut...
amin..
terima kasih Tuhan
Kamis, 29 November 2007
Demokrasi (Ekonomi) yang dipertanyakan
Negara dibentuk berdasarkan dari sebuah sistem..
Dari sistem tersebut, maka unsur-unsur pembentuknya dan aplikasi pada kehidupan bernegaranya...
Sistem di Indonesia adalah Demokrasi (Pancasila)..
Pertanyaanya sekarang adalah kenapa hal tersebut dipertanyakan??..
arti kata dari demokrasi ekonomi pancasila dapat dilihat pada http://www.ekonomirakyat.org/edisi_17/artikel_3.htm yaitu
"Dalam pada itu Sistem Ekonomi Pancasila yang bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke-5) jelas berorientasi pada etika (Ketuhanan Yang Maha Esa), dan kemanusiaan, dengan cara-cara nasionalistik dan kerakyatan (demokrasi). Secara utuh Pancasila berarti gotong-royong, sehingga sistem ekonominya bersifat kooperatif/ kekeluargaan/ tolong-menolong.
Jika suatu masyarakat/negara/bangsa, warganya merasa sistem ekonominya berkembang ke arah yang timpang dan tidak adil, maka aturan mainnya harus dikoreksi agar menjadi lebih adil sehingga mampu membawa perekonomian ke arah keadilan ekonomi dan sekaligus keadilan sosial"
Fraksi Golkar akhir-akhir ini (NOV 07) mempernyatakan bahwa demokrasi tersebut bukanlah alat, dan tujuan akhir...
Jika ditilik dari unsur intrinsiknya, maka ada ketidakpuasan dari sistem yang berjalan sekarang..
Hal itu sangat wajar, karena jika dilihat dari keadaan pembangunan Indonesia yang amburadul, maka mempertanyakan sistem yang ada adalah salah satu cara pencarian solusi yang baik..
Merujuk pada pengertian sistem ekonomi pancasila di atas, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah ...
1.jika tujuan akhir adalah keadilan ekonomi dan sosial, maka wajarlah jika ada yang merasa puas dan tidak puas, karena adil tergantung dari individu tersebut (kalau mampu mengembangkan diri = kepuasan materi, kalau tidak mampu = kurang puas). Jadi prinsip demorkrasi liberal yaitu kebebasan berusaha, dan sukses diri berdasarkan kemampuannya secara pribadi terlihat disini.
Namun pada sektor hukum adil tersebut kembali dipertanyakan..
2. Sifat kekeluargaan/gotongroyong/tolong-menolong adalah unsur positif dalam sistem ekonomi pancasila, namun negativasi dari aplikasinya adalah sikap nepotisme (kekeluargaan), korupsi bersama-sama dan kolusi (gotong royong), Sogok menyogok (tolong-menolong)...
Benarkah hal tersebut? jawabannya adalah benar dari segi definisi..namun salah dari segi pemahaman...
3. Sedangkan dasar sistem ekonomi pancasila, yaitu Ketuhanan yang Maha esa, Nasionalitas, dan Pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat (demokrasi) tidak bisa diganggu gugat...
Tidak terdapat unsur positif atau negatif disini, karena merupakan dasar pijakan, pegangan prinsip, serta pedoman mutlak suatu tujuan...
Jika dibuat suatu diagram, ketiga unsur tersebut adalah sebagai berikut:
Ketuhanan, Nasionalitas, Kerakyatan (KNK)----> (positif)kekeluargaan,gotongroyong,tolongmenolong
!-------------------->(negatif) KKN
positif-------> keadilan dari berbagai aspek
Sistem yang telah ada jika memiliki pegangan yang kuat terhadap KNK maka sikap, penerapan positif bisa tercapai....
Kesimpulannya adalah kesalahan yang terjadi di Indonesia terjadi pada sisi pemilihan pemahaman dan penerapan sistem ekonomi itu sendiri...
Dari sistem tersebut, maka unsur-unsur pembentuknya dan aplikasi pada kehidupan bernegaranya...
Sistem di Indonesia adalah Demokrasi (Pancasila)..
Pertanyaanya sekarang adalah kenapa hal tersebut dipertanyakan??..
arti kata dari demokrasi ekonomi pancasila dapat dilihat pada http://www.ekonomirakyat.org/edisi_17/artikel_3.htm yaitu
"Dalam pada itu Sistem Ekonomi Pancasila yang bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke-5) jelas berorientasi pada etika (Ketuhanan Yang Maha Esa), dan kemanusiaan, dengan cara-cara nasionalistik dan kerakyatan (demokrasi). Secara utuh Pancasila berarti gotong-royong, sehingga sistem ekonominya bersifat kooperatif/ kekeluargaan/ tolong-menolong.
Jika suatu masyarakat/negara/bangsa, warganya merasa sistem ekonominya berkembang ke arah yang timpang dan tidak adil, maka aturan mainnya harus dikoreksi agar menjadi lebih adil sehingga mampu membawa perekonomian ke arah keadilan ekonomi dan sekaligus keadilan sosial"
Fraksi Golkar akhir-akhir ini (NOV 07) mempernyatakan bahwa demokrasi tersebut bukanlah alat, dan tujuan akhir...
Jika ditilik dari unsur intrinsiknya, maka ada ketidakpuasan dari sistem yang berjalan sekarang..
Hal itu sangat wajar, karena jika dilihat dari keadaan pembangunan Indonesia yang amburadul, maka mempertanyakan sistem yang ada adalah salah satu cara pencarian solusi yang baik..
Merujuk pada pengertian sistem ekonomi pancasila di atas, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah ...
1.jika tujuan akhir adalah keadilan ekonomi dan sosial, maka wajarlah jika ada yang merasa puas dan tidak puas, karena adil tergantung dari individu tersebut (kalau mampu mengembangkan diri = kepuasan materi, kalau tidak mampu = kurang puas). Jadi prinsip demorkrasi liberal yaitu kebebasan berusaha, dan sukses diri berdasarkan kemampuannya secara pribadi terlihat disini.
Namun pada sektor hukum adil tersebut kembali dipertanyakan..
2. Sifat kekeluargaan/gotongroyong/tolong-menolong adalah unsur positif dalam sistem ekonomi pancasila, namun negativasi dari aplikasinya adalah sikap nepotisme (kekeluargaan), korupsi bersama-sama dan kolusi (gotong royong), Sogok menyogok (tolong-menolong)...
Benarkah hal tersebut? jawabannya adalah benar dari segi definisi..namun salah dari segi pemahaman...
3. Sedangkan dasar sistem ekonomi pancasila, yaitu Ketuhanan yang Maha esa, Nasionalitas, dan Pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat (demokrasi) tidak bisa diganggu gugat...
Tidak terdapat unsur positif atau negatif disini, karena merupakan dasar pijakan, pegangan prinsip, serta pedoman mutlak suatu tujuan...
Jika dibuat suatu diagram, ketiga unsur tersebut adalah sebagai berikut:
Ketuhanan, Nasionalitas, Kerakyatan (KNK)----> (positif)kekeluargaan,gotongroyong,tolongmenolong
!-------------------->(negatif) KKN
positif-------> keadilan dari berbagai aspek
Sistem yang telah ada jika memiliki pegangan yang kuat terhadap KNK maka sikap, penerapan positif bisa tercapai....
Kesimpulannya adalah kesalahan yang terjadi di Indonesia terjadi pada sisi pemilihan pemahaman dan penerapan sistem ekonomi itu sendiri...
Rabu, 28 November 2007
Korupsi Hentikan
Jika dilihat dari berbagai sudut pandang...
Korupsi adalah suatu bentuk penjajahan oleh parasit-parasit bangsa...
Dengan jelas diingat korupsi mantan presiden Soeharto telah membawa krisis bangsa pada tahun 1998..
Kepastian hukum pun belum ada...
Walaupun penurunan indeks angka korupsi Indonesia telah naik menjadi 2,4 dari 2,2 http://www.antikorupsi.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=9302 belum menunjukkan suatu keberhasilan berarti...
Karena dari 163 negara Indonesia hanya menduduki urutan ketujuh dari belakang atau urutan 163-7=156..
sudut pandang 7 dari belakang harus diubah karena pemikiran yang muncul adalah masih ada dibawah dari pada Indonesia..dan yang dicari pasti negara manakah yang lebih buruk dari Indonesia???
Masih ada 155 negara yang lebih baik dari Indonesia...dan yang diupayakan sampai berhasil menuju 10 besar...
Berdasarkan salah satu artikel oleh kumpulan tulisan mengenai upaya pemberantasan korupsi pada http://www.transparansi.or.id/artikel/artikel_pk.html maka transparansi adalah salah satu senjata dalam membubarkan korupsi tersebut, disamping pembenahan birokrasi, dan sebagainya..
Jika dirunut suatu fakta bahwa korupsi sudah menjadi suatu budaya seperti yang dikatakan oleh Soetandyo Wignyosoebroto:"Korupsi di Indonesia Sudah Menjadi Budaya" pada http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi26/26utama_3.html..
budaya yang bagaimana yang seharusnya ada di Indonesia??
budaya transparansi mungkin adalah yang seharusnya,..
dalam hal ini bisa disebut suatu kejujuran..
transparansi atau suatu hal tidak ada yang disembunyikan..
dalam pengaplikasian di bidang ekonomi dan bisnis adalah laporan laba rugi yang siap dipublikasikan apa adanya tanpa tambahan dan tanpa pengurangan...
menuntut suatu kejujuran dalam pengaplikasian tersebut...
korupsi yang dilakukan oleh petinggi-tinggi tersebut disadari atau tidak, menjadi panutan bagi pekerja-pekerja baik dari level atas sampai level terbawah sekalipun...
alasan bagi mereka sebagai pengalaman adalah "biar bisa makan hari ini, ga papa kan sedikit daripada banyak"
kalo diperhatikan orang kecil korupsi kecil orang besar korupsi besar, tetapi persamaannya adalah kata KORUPSI TERSEBUT...
apa terlalu keren ya kata korupsi itu?? sama saja kayak maling duit orang kan..
budaya malu perlu juga dikembangkan untuk tidak berkorupsi, tetapi secara pribadi yang pernah mengalami kalo tidak korupsi kok jadi malu ya???....
Aneh memang tapi itulah yang terjadi...
Keidealisan kalah oleh perkembangan jaman sekarang ini...
tetapi jika diibaratkan uang itu adalah keringat, darah, rasa payah, jiwa, atau sukma yang sudah dikorbankan untuk mencari selembar uang...
masihkah orang berpikir untuk mencuri (mengkorupsi) uang/rasa itu...
dari yang dilihat korupsi bisa terjadi karena faktor2 yang mendukung korupsi tersebut...
menurut wikipedia faktor-faktor pendukungnya adalah:
1. Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik.
2.Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah
3. Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal.
4.Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.
5.Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama".
6.Lemahnya ketertiban hukum.
7.Lemahnya profesi hukum.
8.Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa.
9.Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.
10.Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum.
11.Ketidakadaannya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau "sumbangan kampanye".
dari berbagai hal diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa DPR sebagai "tersangka" dan tidak pernah menjadi "terdakwa" yang merupakan fakta umum adalah koruptor (TIKUS GOT,BAU,JIJIK,NAJIS,) diakibatkan oleh politik dengan biaya yang tinggi..
ingin berkuasa harus punya uang banyak, setelah berkuasa mencari uang untuk menutupi biaya produksi tersebut..
setelah masa jabatan bisa dihitung berapa laba yang didapat..
berdasarkan http://kormonev.menpan.go.id/ebhtml/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=1045&Itemid=2 politik biaya tinggi diakibatkan oleh sistem ekonomi pembangunan yang salah (liberal)..
tetapi apakah bukannya Indonesia menerapkan sistem ekonomi pancasila (demokrasi ekonomi)..
Jika sistem ekonomi demokrasi liberal dikatakan salah, mengapa amerika jarang ditemukan berita korupsi...
kuba merupakan penganut sistem ekonomi sosialis, namun berita yang paling sering didengar bukan dari kemajuan ekonominya tetapi dari konsep che guavaranya beserta perlawanan mereka terhadap amerika...
demokrasi pancasila pun tidak salah, karena yang diambil adalah kedua keuntungan dari sistem tersebut..
Jadi harusnya bagus dong..
penerapan dari definisi demokrasi tersebut mungkin yang salah..
demokrasi adalah "dari,oleh,dan untuk rakyat"..
Korupsi adalah suatu bentuk penjajahan oleh parasit-parasit bangsa...
Dengan jelas diingat korupsi mantan presiden Soeharto telah membawa krisis bangsa pada tahun 1998..
Kepastian hukum pun belum ada...
Walaupun penurunan indeks angka korupsi Indonesia telah naik menjadi 2,4 dari 2,2 http://www.antikorupsi.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=9302 belum menunjukkan suatu keberhasilan berarti...
Karena dari 163 negara Indonesia hanya menduduki urutan ketujuh dari belakang atau urutan 163-7=156..
sudut pandang 7 dari belakang harus diubah karena pemikiran yang muncul adalah masih ada dibawah dari pada Indonesia..dan yang dicari pasti negara manakah yang lebih buruk dari Indonesia???
Masih ada 155 negara yang lebih baik dari Indonesia...dan yang diupayakan sampai berhasil menuju 10 besar...
Berdasarkan salah satu artikel oleh kumpulan tulisan mengenai upaya pemberantasan korupsi pada http://www.transparansi.or.id/artikel/artikel_pk.html maka transparansi adalah salah satu senjata dalam membubarkan korupsi tersebut, disamping pembenahan birokrasi, dan sebagainya..
Jika dirunut suatu fakta bahwa korupsi sudah menjadi suatu budaya seperti yang dikatakan oleh Soetandyo Wignyosoebroto:"Korupsi di Indonesia Sudah Menjadi Budaya" pada http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi26/26utama_3.html..
budaya yang bagaimana yang seharusnya ada di Indonesia??
budaya transparansi mungkin adalah yang seharusnya,..
dalam hal ini bisa disebut suatu kejujuran..
transparansi atau suatu hal tidak ada yang disembunyikan..
dalam pengaplikasian di bidang ekonomi dan bisnis adalah laporan laba rugi yang siap dipublikasikan apa adanya tanpa tambahan dan tanpa pengurangan...
menuntut suatu kejujuran dalam pengaplikasian tersebut...
korupsi yang dilakukan oleh petinggi-tinggi tersebut disadari atau tidak, menjadi panutan bagi pekerja-pekerja baik dari level atas sampai level terbawah sekalipun...
alasan bagi mereka sebagai pengalaman adalah "biar bisa makan hari ini, ga papa kan sedikit daripada banyak"
kalo diperhatikan orang kecil korupsi kecil orang besar korupsi besar, tetapi persamaannya adalah kata KORUPSI TERSEBUT...
apa terlalu keren ya kata korupsi itu?? sama saja kayak maling duit orang kan..
budaya malu perlu juga dikembangkan untuk tidak berkorupsi, tetapi secara pribadi yang pernah mengalami kalo tidak korupsi kok jadi malu ya???....
Aneh memang tapi itulah yang terjadi...
Keidealisan kalah oleh perkembangan jaman sekarang ini...
tetapi jika diibaratkan uang itu adalah keringat, darah, rasa payah, jiwa, atau sukma yang sudah dikorbankan untuk mencari selembar uang...
masihkah orang berpikir untuk mencuri (mengkorupsi) uang/rasa itu...
dari yang dilihat korupsi bisa terjadi karena faktor2 yang mendukung korupsi tersebut...
menurut wikipedia faktor-faktor pendukungnya adalah:
1. Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik.
2.Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah
3. Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal.
4.Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.
5.Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama".
6.Lemahnya ketertiban hukum.
7.Lemahnya profesi hukum.
8.Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa.
9.Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.
10.Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum.
11.Ketidakadaannya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau "sumbangan kampanye".
dari berbagai hal diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa DPR sebagai "tersangka" dan tidak pernah menjadi "terdakwa" yang merupakan fakta umum adalah koruptor (TIKUS GOT,BAU,JIJIK,NAJIS,) diakibatkan oleh politik dengan biaya yang tinggi..
ingin berkuasa harus punya uang banyak, setelah berkuasa mencari uang untuk menutupi biaya produksi tersebut..
setelah masa jabatan bisa dihitung berapa laba yang didapat..
berdasarkan http://kormonev.menpan.go.id/ebhtml/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=1045&Itemid=2 politik biaya tinggi diakibatkan oleh sistem ekonomi pembangunan yang salah (liberal)..
tetapi apakah bukannya Indonesia menerapkan sistem ekonomi pancasila (demokrasi ekonomi)..
Jika sistem ekonomi demokrasi liberal dikatakan salah, mengapa amerika jarang ditemukan berita korupsi...
kuba merupakan penganut sistem ekonomi sosialis, namun berita yang paling sering didengar bukan dari kemajuan ekonominya tetapi dari konsep che guavaranya beserta perlawanan mereka terhadap amerika...
demokrasi pancasila pun tidak salah, karena yang diambil adalah kedua keuntungan dari sistem tersebut..
Jadi harusnya bagus dong..
penerapan dari definisi demokrasi tersebut mungkin yang salah..
demokrasi adalah "dari,oleh,dan untuk rakyat"..
Label:
demokrasi,
korupsi,
soeharto,
transparansi
Langganan:
Postingan (Atom)
